April 18, 2009
Memilih Program IPS Bukan Kesalahan
Sepagi ini saya sudah menyempatkan untuk online sejenak di sekolah. Fasilitas wifi sekolah memang terbilang sangat lambat, tapi keinginan untuk menulis blog sudah tak tertahankan lagi (*lebay mode on. hehhe) Kelas memang tengah sepi saat ini. Maklum saja, sebagian penghuni kelas tengah mengikuti kegiatan sembahyang bersama yang diadakan sekolah (khusus agama Hindu). Di kelas yang sepi ini, bukan berarti tak ada kegiatan yang berarti. Walaupun hanya tersisa 4 orang siswi, mereka tetap sibuk dengan kegiatan masing-masing. Seperti saya contohnya, sibuk mengisi blog yang sangat sepi ini. hehhe.
Oh, ya. Saya belum pernah menceritakan mengenai kelas saya sebelumnya. Di SMA Negeri 4 Denpasar, sekolah saya yang sangat luar biasa (menyiksa), hanya terdapat 1 kelas IPS untuk siswa kelas XI, dan disanalah saya berada. Cosmic, itulah nama kelas kami, akronim dari Community of Social Management in Class. Yah, memang akronim yang sedikit memaksakan, tapi saya sangat senang dapat bergabung dalam kelas yang sangat “eksklusif” ini. Bagaimana tidak? Siswa dalam kelas ini hanyalah 23 orang, selisih jauh apabila dibandingkan dengan kelas IPA angkatan kami yang rata-rata 45 siswa dalam satu kelas. Tetapi jangan salah sangka, kami bukanlah siswa buangan, bukan pula memilih IPS atas dasar “lari” dari pelajaran sains. Hanya saja, kami sudah menetapkan diri untuk mendalami pelajaran-pelajaran yang bersifat sosial, karena kami anggap lebih sesuai dengan jiwa kami.
Saya tahu bahwa banyak yang menganggap sebelah mata kelas IPS. Mungkin lebih dikarenakan pelajaran-pelajaran sosial ataupun pelajaran humaniora lainnya dianggap jauh lebih mudah daripada sains serupa fisika, kimia, biologi, dan lain-lain. Yah, dalam hal tertentu pendapat mereka memang benar, karena dalam pelajaran sosial, rumus-rumus (yang sering kali digunakan sebagai suatu pembanding tingkat kesusahan suatu pelajaran) memang tak banyak dibandingkan rumus-rumus dalam pelajaran program IPA. Tapi tak bijak pula, hanya karena penggunaan rumus tak terlalu banyak lantas kelas IPS dianggap kelas buangan. Program dalam kelas IPS di sekolah saya, lebih menekankan pada adanya ketajaman analisis serta keberanian dalam mengungkapkan pendapat atau argumentasi. Tak jarang pula, pelajaran yang dibahas di kelas nyaris tak terdapat di buku pelajaran. Guru yang mengajar juga tak menuntut siswanya untuk menghafal rumus-rumus ataupun arti kosakata, melainkan kami diarahkan untuk berfikir lebih kreatif serta kritis, bahkan tak jarang kami diberi tugas untuk membuat kronologi terjadinya suatu peristiwa berdasarkan analisis kami (dengan didukung oleh fakta yang ada tentunya). Sebagai contoh, kami pernah ditugaskan untuk membuat film semi dokumentasi terkait sejarah, kebetulan saja saat itu saya ditugaskan untuk mengangkat film mengenai masuknya pengaruh dunia Barat di Indonesia.
Contoh lainnya, dalam pelajaran Sosiologi, guru pendongeng kami tercinta, Pak Budra, pernah pula memberikan tugas untuk membuat esai terkait remaja dan tantangan multikulturalisme. Uniknya, tugas ini bukanlah sekadar tugas, dimana siswa hanya membuat esai lantas mengumpulkannya. Melainkan esai tersebut haruslah dipresentasikan, lalu siswa-siswa lainnya diberi kesempatan untuk bertanya ataupun mengajukan masalah terkait esai yang dibahas. Wah, seperti lomba saja, fikir saya. Bila tugas tersebut hanya sekadar copy-paste, tentulah akan sangat sulit untuk mempresentasikannya bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
Demikian pula halnya dengan ulangan. Jarang sekali soal-soal dalam ulangan merupakan soal yang lebih bersifat hafalan (kecuali ulangan matematika ataupun ulangan bersama). Soal-soal yang dipertanyakan dalam ulangan, justru soal yang menuntut siswa untuk menganalisis permasalahan. Terang saja, jawabannya tak tertera dengan jelas dalam buku teks pelajaran. Dalam waktu yang sangat terbatas, berbagai ide harus mampu tersampaikan secara runut serta jelas. Tak hanya dibutuhkan kepandaian dalam menganalisis, namun juga dalam berbahasa.
Program IPS merupakan pilihan bagi saya, juga rekan-rekan yang lain. Bukan suatu keterpaksaan atas dasar ketidakmampuan. Memilih program IPS bukan pula suatu kesalahan, apabila disertai dengan tujuan yang jelas serta didukung tekad. Program IPA tak selamanya lebih baik.
Teguhkan tekad, percaya pada pilihan.