April 17, 2009
Bahasa Bali : Tersisihkan dan Nyaris Terlupakan
Hari ini saya mengerjakan tugas Bahasa Bali di sekolah. Tugas tersebut merupakan tugas meringkas isi pidato Bahasa Bali lalu mengartikannya dalam Bahasa Indonesia. Yah, saya memang tak menguasai Bahasa Bali. Jangankan fasih, paham saja belum tentu. Maklum saja, sedari kecil (dalam lingkungan keluarga khususnya), Bahasa Bali nyaris tidak pernah dipergunakan. Bahkan sebagian besar dari penghuni rumah saya, tak paham Bahasa Bali.
Singkat cerita, saya menyalin jawaban dari seorang teman. Jawaban tersebut masih ditulis secara acak, sehingga saya berinisiatif untuk mengetiknya terlebih dahulu sebelum disalin ke dalam kertas doublefolio. Waah, banyak juga, fikir saya. Dua lembar doublefolio penuh dengan tulisan dengan pensil, yang konon katanya sudah merupakan ringkasan. Ringkasan saja sebegitu panjangnya, bagaimana pidato yg asli? Sudah tak mengerti, panjang pula.
Secara keseluruhan, pidato tersebut menceritakan tentang pentingnya Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, dimana Bahasa Bali diposisikan sebagai salah satu bagian dari budaya Bali serta sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat Bali yang berbeda daerah dan logat.
Bahasa dan sastra Bali dalam kaitan yang “tak terpisahkan dengan budaya Bali”, menjelaskan bahwa bahasa dan sastra Bali memiliki posisi yang strategis dalam melestarikan budaya Bali itu sendiri. Jika diumpamakan seperti tumbuh-tumbuhan, bahasa dan sastra Bali dianalogikan seperti akar, dengan budaya sebagai pohon, sedangkan tari-tarian, seni tabuh, seni ukir, dan lain-lain merupakan bunga dan buahnya. Hal ini mencerminkan pula bahwa bahasa dan sastra Bali merupakan dasar dari berkembangnya suatu budaya, bahkan dapat mengembangkan budaya serta melahirkan budaya-budaya baru seperti halnya kidung, macepat, pupuh, dan lain sebagainya.
Keberadaan Bahasa Bali saat ini, oleh penulis dianggap tidak mendapatkan porsi yang semestinya. Ia menerangkan bahwa di tengah arus deras globalisasi, dimana bumi seolah tak berbatas telah melahirkan fenomena tersendiri.Teknologi memang dapat mempermudah masyarakat untuk mengakses berbagai informasi dalam waktu yang relatif singkat, namun apabila masyarakat kurang peka ataupun waspada akan keadaan bumi yang terus mengalami perubahan, keagungan budaya Bali dikhawatirkan akan terlupakan.
Bahasa Bali yang dianggap merupakan salah satu ciri yang dapat menegaskan seseorang sebagai orang Bali, justru kini mulai tersisihkan. Generasi muda pada umumnya lebih menguasai Bahasa Indonesia ataupun bahasa asing dibandingkan dengan Bahasa Bali. Bahasa Bali tak lagi menjadi bahasa ibu di daerahnya sendiri. Penulis juga sempat memaparkan bahwa Bahasa Bali yang diposisikan sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat Bali berbeda daerah atau logat menjadikannya memiliki posisi strategis dalam berkomunikasi. Menurut saya, hal ini kurang relevan dengan keadaan saat ini. Dimana sebagian besar masyarakat Bali sudah paham dan mengerti Bahasa Indonesia, sehingga dalam hal ini posisi Bahasa Bali tak lagi strategis. Apakah Bahasa Indonesia telah menggantikan fungsi Bahasa Bali? Yah, bisa saja dalam kaitannya dengan komunikasi, namun tetap saja Bahasa Indonesia bukanlah bagian dari budaya Bali. Mungkin dengan Bahasa Indonesia, kita dapat mempromosikan budaya Bali kepada khalayak ramai, namun tetap saja Bahasa Indonesia tak dapat menjadi dasar dalam melestarikan budaya Bali itu sendiri. Bahasa Indonesia tak dapat melahirkan budaya Bali itu sendiri.
Singkat kata, saya setuju dengan penggunaan Bahasa Bali dalam kaitannya dengan pelestarian budaya, namun saya kurang setuju apabila Bahasa Bali dianggap sebagai yang utama dalam berkomunikasi dengan masyarakat Bali berbeda daerah karena sudah tak lagi relevan dengan keadaan saat ini. Wah, baca pidato seperti ini, jadi merasa tersindir juga. hehhehe. Lahir dan besar di Bali, tak juga paham Bahasa Bali. :-p
Semoga saja, hal ini dapat menjadi renungan agar Bahasa Bali setidaknya dapat dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat Bali.
BlaZe said,
April 21, 2009 at 10:43 am
wolo”
no comment dsini
ckckck
numpang lewat
coalna d paksa lewat
wakakakk
Karina S. Pangalela said,
April 21, 2009 at 11:18 am
huhuhu
jelek bgtz ddQ ini. .
terima kasih atas keterpaksaan yang baik hati ini
hehhehe. ^_^v
BlaZe said,
April 21, 2009 at 2:11 pm
seep
tezta said,
April 27, 2009 at 7:01 pm
hai,,, aQ rezta
leh knlan gA?
Karina S. Pangalela said,
April 27, 2009 at 7:43 pm
niy sapa ea??
ryuken said,
April 28, 2009 at 6:08 pm
keren bangat blognya… ya good luch ya karin…. GBU
MansTa o_0 said,
April 29, 2009 at 11:56 am
hehe, Orang bali ga bisa bahasa bali >_< (gw gede di lampung ga bisa bahasa lampung
… -PeacE- )
Mari kita budayakan Bahasa Daerah kita … ( Malay T_T )
With This Diet I Shed Thirty Póunds in Thirty Days said,
May 6, 2009 at 2:38 pm
Hi, good post. I have been pondering this topic,so thanks for posting. I will definitely be coming back to your blog. Keep up great writing